Pengaruh Hormon Indole Butyric Acid (IBA) dan 6-Benzyl Amino Purin (BAP) terhadap Induksi Kalus Piper betle L. var Nigra
DOI:
https://doi.org/10.53342/pharmasci.v4i2.141Abstract
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IBA (Indole Butyric Acid) dan BAP (6-Benzyl Amino Purine) yang paling baik untuk induksi kalus sirih hitam (Piper betle L.). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 25 perlakuan dan setiap perlakuan memiliki 6 ulangan sehingga terdapat 150 unit ekperimen. Pada tahap kultur kalus dilakukan dengan menambahkan zat pengatur tumbuh IBA dan BAP ke dalam medium Murashige and Skoog (MS). Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa zat pengatur tumbuh IBA dan BAP dengan kombinasi konsentrasi berbeda berpengaruh terhadap waktu induksi kalus, berat segar dan berat kering kalus sirih hitam. Hasil penelitian menunjukkan waktu tercepat pembentukan kalus pada IBA 2,0 mg/L dan BAP 2,0 mg/L yaitu 10 hari. Berat segar dan berat kering tertinggi pada IBA 2,0 mg/L dan 2,0 mg/L yaitu 0,8507 gram untuk berat segar dan 0,0769 untuk berat kering. Warna kalus adalah putih kehijauan dengan tekstur kompak dan remah.
Kata kunci: Induksi kalus, Piper betle L., Indole Butyric Acid, 6-Benzyl Amino Purine.
ABSTRACT
The purpose of this research to determine the effect of the combination concentration of growth regulators IBA (Indole Butyric Acid) and BAP (6-Benzyl Amino Purine) was best for callus induction black betel (Piper betle L.). This research used completely randomized design with 25 treatments and 6 replicates of each treatment, hence there were 150 experimental units. At this stage of callus culture was done by adding the growth regulators IBA and BAP into Murashige and Skoog (MS). The test results showed that plant growth regulators IBA and BAP in combination with different concentrations of influence on callus induction time, fresh weight and dry weight callus Piper betle L. The results showed the fastest time of callus formation at IBA 2,0 mg/L and BAP 2,0 mg/L at 10 days. Fresh weight and dry weight of the highest in the IBA 2,0 mg/L and BAP 2,0 mg/L were 0,8507 grams and 0,0769 grams fresh weight to dry weight. The color of callus was white greenish with compact and friable texture.
Keywords: Callus induction, Piper betle L., Indole Butyric Acid, 6-Benzyl Amino Purine.
References
Rashif HR, Syafnir L, dan Rismawati E. Uji Aktivitas antioksidan akstrak bertingkat daun sirih hitam (Piper acre Blume.) dengan peredaman radikal bebas DPPH (1,1-Difenil-2-Pikril Hidrazil). Bandung: Prodi farmasi FMIPA, Universitas Islam Bandung; 2015.
Rija’i AJ. Telaah fitokimia kandungan metabolit sekunder dalam ekstrak daun sirih hitam (Piper betle L.) dan uji bioktivitasnya terhadap larva udang (Artemia salina Leach.) (skripsi). Bandung: Universitas Islam Bandung; 2015.
Hermawan A, Eliyani H, dan Tyasningsih W. Pengaruh ekstrak daun sirih (Piper betle L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan metode diffusi disk. Surabaya: Universitas Airlangga; 2007.
Sastrohamidjojo, S. Obat asli Indonesia. Edisi VI. Jakarta: Dian Rakyat; 2001.
Lestari EG. dan Mariska I. Kultur in vitro sebagai metode pelestarian tumbuhan Obat Langka. Buletin Plasma Nutfah.1997; II(1): 1-8.
Azwin IZS. dan Supriyanto. Penggunaan BAP dan thidiazuron untuk perbanyakan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.). Bogor: Media Konservasi. 2006; XI(3): 98–104.
Elimasni I, Nurwahyuni, dan Sofyan MZ. Inisiasi in vitro biji muda terong belanda (Solanum betaceum Cav.) Berastagi Sumatera Utara pada komposisi media dan zat tumbuh yang berbeda. Jurnal Biologi Sumatera. 2006;1(1)
Siregar LH, Siregar LAM, dan Putri LAP. Pengaruh benzil amino purin dan asam asetat naftalena terhadap pertumbuhan akar Boesenbergia flava secara in vitro. Jurnal Online Agroekoteknologi. 2013; 1(3)
Zulkarnain. Kultur jaringan tanaman; solusi perbanyakan tanaman budi daya. Jakarta: Bumi Aksara; 2011.
Paramartha AI, Ermavitalini D, dan Nurfadilah S. Pengaruh penambahan kombinasi konsentrasi ZPT NAA dan BAP terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji Dendrobium taurulinum J.J Smith secara in vitro. Jurnal Sains dan Seni ITS. 2012; 1(1).
Taiz L dan Zeiger E. Plant physiology. 3rd edition. Sunderland: Sinauer Associates, Inc. Publishers; 2002.
Santoso U dan Nursandi F. Kultur jaringan tanaman. Malang: UMM Press; 2002.
Ari NT. Pengaruh variasi konsentrasi zat pengatur tumbuh indole butyric acid (IBA) dan Benzyl amino purin (BAP) terhadap induksi kalus dan kandungan senyawa sirih merah (Piper crocatum Ruiz dan Pav.) (skripsi). Tidak dipublikasikan. Universitas Airlangga; 2015.
Widyarso M. Kajian penggunaan BAP dan IBA untuk merangsang pembentukan tunas lengkeng (Dimocarpus longan Lour) varietas pingpong secara in vitro. (skripsi). Surakarta: Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret; 2010.
Lakitan B. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada; 1996.
Purwianingsih, Widi., Kusdianti R, dan Yuniarti L. Anatomi kalus yang berasal dari eksplan daun Catharanthus roseous (L). G. Don (Tapak Dara). Jurnal Seminar Nasional Bioteknologi; 2007.
Tsuro M. Comparative Effect of different types of cytokinin for shoot formation and plant regeneration in leaf-derived callus of lavender (Lavandula vera DC). Japan: Laboratory of Plant Breeding Science, Faculty of Agriculture, Kyoto Prefectural University, Shimogamo-Hangi Sakyoku, Kyoto; 1998:606-8522.
Sugiyarto L. dan Kuswandi PC. Induksi kalus daun binahong (Anredera cordifolia L.) dalam upaya pengembangan tanaman obat tradisional. Yogyakarta: Jurdik Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Journal Sains Dasar; 2014: 3 (1): 56 – 60.







